Story of a Guling

Hal yang paling tidak bisa dipisahkan dari seseorang adalah kasur, bantal, dan guling. Kasur adalah tempat kita tidur. Kasur memiliki komponen-komponen dasar, antara lain kapuk dan, jika ada, pir. Tidakkah sangat nyaman tidur di atas sebuah kasur? Namun, tidakkah akan lebih nyaman jika saat tidur, kepala kita beralaskan bantal dan kaki kita memeluk guling? Apalagi jika bantal dan guling itu adalah kesayangan kita. Jika tak ada bantal atau guling kesayangan, mungkin kita takkan bisa tidur.

Begitu pula denganku. Tanpa guling kesayanganku, aku takkan bisa tidur. Meskipun sudah sangat mengantuk, namun jika guling kesayanganku yang kuberi nama Rio itu tak ada di sampingku, senyaman apapun kasur yang kutiduri, aku takkan bisa tidur. Rio sudah seperti bagian hidupku, yang menghiasi hari-hariku, yang melengkapiku, dan yang menerima keadaan saat kakiku yang nakal menendangnya.

Gulingku ini sudah kumiliki sejak aku masih bayi. Woah, bayangkan ukuran tubuhku ketika masih bayi, kecil bukan? Betapa hebatnya ketika itu aku sudah punya guling sebesar Rio! Saat itu, Rio masih sangat gemuk dan bundar. Namun entah mengapa, kini ia sudah berubah menjadi kurus. Kurasa badanku tidak cukup berat untuk dapat membuat sebuah guling menjadi kempes. Ajaib, bukan?

Nah, kali ini aku akan menceritakan sebuah kisah tentang guling kesayanganku ini. Simak baik-baik, ya!

Oya, sebelum masuk ke cerita, akan lebih bagus bila sudut pandang ceritanya adalah orang ketiga. Jadi, aku seperti menceritakan sebuah cerpen di sini. Baiklah, ini dia awal kisahnya…

Di suatu malam di kota Jogja, seorang gadis kecil bernama Snow sedang duduk di ruang tamu rumah neneknya sambil memeluk sebuah guling tua. Guling itu sudah agak tak berbentuk. Kedua ujung guling itu sudah robek dan kapuk-kapuk di dalamnya mencuat keluar. Namun gadis itu tidak peduli. Guling itu adalah guling kesayangannya.

Dari kejauhan, mama Snow memandang putrinya itu sambil membatin, “Betapa ia menyayangi gulingnya itu! Meski begitu, jika kubiarkan ia memeluk guling itu terus, kapuk-kapuk yang mencuat itu bisa mengganggu kelancaran pernapasannya. Harus bagaimana aku?”

Ketika itu tiba-tiba Snow batuk.

“Snow!” panggil mamanya.

Snow menoleh. “Iya, Ma?”

“Kau batuk.” Mama memandang ke arah Snow dan gulingnya bergantian.

“Ini bukan salah gulingku. Tenggorokanku hanya sedikit gatal.”

“Ya, kurasa karena kapuk-kapuk itu tenggorokanmu gatal.”

“Apa? Memangnya bisa?”

“Tentu.”

Mama menghampiri Snow dan duduk di sebelahnya. “Snow, Mama tahu guling itu adalah guling kesayanganmu. Tapi tak mungkin Mama akan membiarkannya membuatmu sakit.”

Snow tidak memandang mamanya. Ia mencabuti sedikit kapuk dari gulingnya. “Ma… kan aku sudah pernah meminta tolong pada Mama untuk menjahitkan gulingku agar kapuknya tidak mencuat lagi.”

“Ya… tapi Mama tidak punya banyak waktu. Lagipula, tidakkah kau ingin guling baru? Adik-adikmu sudah dibelikan kemarin.”

“Apa, Ma? Tentu tidak! Jika Mama membelikanku guling baru, terimakasih. Tetapi, gulingku inilah yang akan terus kupakai.”

“Tapi bagaimana jika itu menyebabkan penyakit?”

“Yah. Aku takkan mendekatkan kapuknya ke hidungku. Dan tentu kakiku takkan mungkin terkena penyakit pernapasan, bukan?”

Mama tersenyum. “Snow, pada saat tidur kau takkan sadar mendekatkan kapuk itu ke hidungmu. Snow sayang Mama, kan? Mau, ya, menuruti kata Mama! Besok kita beli guling baru.”

“Uh, tidak, Ma! Tidak!” teriak Snow.

Tiba-tiba, eyang putri Snow keluar dari kamarnya. “Ada apa, kok, ribut-ribut?”

Kepala Snow tertunduk. Mama beranjak dari tempatnya dan tampak menjelaskan kepada Eyang alasan mereka ribut.

Diam-diam, Snow melirik ke arah Mama dan Eyang dan menajamkan telinganya supaya bisa menangkap apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.

Samar-samar, Snow mendengar Mama berkata, “… gulingnya…. dibuang… malam ini… ya….”

Deg! Snow tak ingin gulingnya dibuang. Tidak! Ia sangat menyayanginya. Tak mungkin gulingnya itu dibuang. Snow tak bisa membayangkan bagaimana ia bisa tidur tanpa gulingnya itu.

***

Ketika hendak tidur, Snow masih terus kepikiran mengenai pembicaraan Mama dan Eyang. Bagaimana jika mereka benar akan membuang guling kesayangannya itu? Snow pun makin erat memeluk gulingnya, sebelum akhirnya terlelap.

***

Srek… srek…! Dalam tidurnya, Snow merasa ada yang menarik gulingnya. Dengan sekuat tenaga, Snow berusaha bangun dari alam bawah sadarnya. Dilihatnya Eyang dan Mama sedang perlahan-lahan menarik guling yang sedang dipeluknya.

Snow kaget dan langsung menarik gulingnya lalu memeluknya erat. Eyang dan Mama saling berpandangan, lalu Mama berbisik, “Takkan berhasil.”

Eyang rupanya memiliki rencana lain. Hanya saja, ketika Eyang mengutarakan rencananya itu, Snow sudah tertidur dan tak sempat mendengarnya.

***

Pagi-pagi sekali Snow sudah bangun. Ia langsung memeriksa gulingnya. Ah, masih ada! Ia sangat ketakutan tadi malam jika ia tak terbangun, bagaimana nasib gulingnya pagi itu?

Tak berselang lama, Eyang menghampiri Snow.

“Snow, Eyang boleh memperbaiki gulingmu?” tanya Eyang.

“Diperbaiki, Yang?”

“Iya, nanti Eyang buatkan sarung untuk kapuk-kapuk itu. Sarung yang sekarang ini sudah tak dapat dijahit lagi. Boleh, ya? Biar kapuknya tidak keluar lagi.”

“Benar, Yang?”

“Iya.”

Snow memberikan gulingnya pada Eyang. Ia sudah tak sabar melihat gulingnya sembuh!

***

Guling itu dengan cepat diperbaiki oleh Eyang. Bentuknya bagus, kapuknya sudah terbungkus sarung baru yang tentunya lebih bersih dan lebih kuat menahan dorongan kapuk sehingga tak mudah robek.

***

Hingga kini, guling itu masih tetap bagus seperti setelah diperbaiki oleh Eyang. Snow saaaaangat senang! Saat menulis ini pun ia tersenyum senang!

Advertisements

2 thoughts on “Story of a Guling

    • of course it is!!! so amajing right? ah do you have guling kesayangan too? oh you dont even have guling right??? you dont have the kasur and the bantal too, apalagi selimut right?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s