FF SEHUN

“Daaah,” gadis SMA bernama Dinda itu berdadah-dadah ria dengan teman-temannya, ketika mereka sampai di gerbang sekolah. “Ati-ati di jalan yaps!”

“Siaaap! Lo juga, bilang Sehun buat hati-hati,” sahut Tyas, gadis berjaket pink setinggi Dinda, sebelum ia jalan ke arah parkiran motor di seberang sekolah.

Mendengar nama Sehun disebut, Dinda jadi teringat akan kakak kelas yang juga pacarnya itu. Sudah dua belas bulan lebih dua minggu sejak mereka jadian, dan baru pertama kali ini Sehun akan mampir ke rumah Dinda, tidak hanya mengantarnya sampai depan gerbang rumah saja seperti biasanya. Sehun memang pernah berkata kalau dia baru akan berani mampir setelah satu tahun pacaran, dan Dinda sendiri juga tak ingin buru-buru menerima Sehun sebagai tamu.

Maka hari ini Sehun dan Dinda seharusnya merasa excited.

Tidak lama setelah teman-teman Dinda tadi berpisah dengannya, Sehun yang ditunggu-tunggu pun akhirnya keluar dari sekolah. Ia sudah duduk dengan manly di jok motor Scoopy putihnya, berhenti tepat di depan Dinda.

“Ayo Din naik!” seru Sehun. “Yeyeye hari ini ke rumah lo~”

Dinda hanya memberi Sehun sebuah senyuman kecil lalu ia naik ke boncengan motor Sehun, dan mengenakan helmnya. Setelah terdengar bunyi klik dari helm Dinda, Sehun pun langsung tancap gas, semangat 45 membara di tubuhnya.

 

***

 

“Wah jadi dalem rumah lo gini, Din…” ujar Sehun saat sudah masuk ke dalam rumah Dinda. Ia memandang sekeliling ruang tamu rumah dengan takjub, seperti belum pernah melihat sebuah karpet, dua buah sofa, sebuah meja kaca, sebuah lampu antik yang tergantung di langit-langit ruangan, dan sebuah buffet berisi sketsa-sketsa karya Dinda yang diberi figura yang terpajang di sana.

Dinda manggut-manggut, meski Sehun nggak melihat karena masih sibuk mengagumi sketsa-sketsa Dinda di buffet. “Hun lo mau minum apa?” Tanya Dinda.

“Eh? Um, apa aja deh…” jawab Sehun.

“Oke.”

Dinda kembali dengan dua gelas minuman, satu air putih dan satu jus jeruk. “Hun tuh minumnya, jangan lupa diabisin ya ntar mubazir.” Ujar Dinda sambil meletakkan kedua gelas di meja kaca.

Suara Dinda itu terdengar agak dingin, tidak seceria biasanya. Sehun juga merasakan itu, namun ia tidak menyempatkan bertanya. Dengan senang hati ia meninggalkan buffet dan mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya.

“SEHUN! ITU PUNYA GUE!” jerit Dinda tiba-tiba. Sehun terperanjat atas bentakan itu, dan ia lebih kaget lagi ketika dilihatnya wajah Dinda seram sekali, seperti singa melihat zebra buruannya diterkam singa lain. Wajah gadisnya itu pun tampak merah sekali. “ARGHHH! PUNYA LO TUH YANG JUS JERUK!”

“Ma.. maaf, Din… gue kan gatau…” jawab Sehun takut-takut. “Gue ambilin air putih lagi aja deh…”

“GAUSAH! GUE BISA AMBIL SENDIRI. INI KAN RUMAH GUE.”

Anjritttt. Marah besar nih Dinda. Tapi salah gue kan cuma salah minum aer putih dia… kenapa marahnya sampe kek gini?! Batin Sehun, takut.

“Thori deh, Din… lo marah banget ya thama gue?”

“Pfft, nggak.”

“Ah yang bener?”

“Nggak kok.”

“Beneran???”

“Iyaaaaa.” Benar saja, ekspresi Dinda kini sudah berubah, sudah melunak.

“Ah, thyukurlah… Gue tadi takut, lo therem thih.”

“GYAHAHAHAHAHAHAHAH!” tiba-tiba Dinda meledak, kali ini ia sudah tidak bisa menahan tawanya lagi. Ia tertawa terpingkal-pingkal, sampai perlu membenamkan wajahnya di bantal sofa supaya suara tawanya nggak mengganggu tetangga. “Cuma lo Hun, cuma lo… HAHAHAHAHAHAHAHA!”

Sehun bengong. Sehun nggak ngerti.

“Lo kenapa thih Din?” tanyanya hati-hati. “Tadi marah, thekarang ketawa. Ah gue bingung.”

“Ah, tadi gue marah?”

“Iyeeee, yah lupa dah.”

“Aduh gue udah lupa kalo tadi barusan marah, gara-gara cadel lo itu… hahaha…” Dinda ketawa lagi. Sehun makin nggak ngerti. Orang cadel bisa ya bikin orang lain lupa pernah marah? Sehun makin mikir.

“Tadi lo marah banget, gue takut aja kenapa lo bitha themarah itu Cuma gara-gara gue thalah ambil minum…”

Kata-kata Sehun ini membuat ketawa Dinda berhenti. Ekspresinya berubah 180 derajat seketika, namun bukan ekspresi marah, melainkan ekspresi dongkol. Dinda menjatuhkan dirinya di sofa, di sebelah Sehun, lalu mulai berkisah.

“Gue tadi gampang marah karena sesuatu. Jadi gue lagi sebel sama satu orang nih, Hun, temen di organisasi gue. Nyebelin banget tuh anak, belagu gitu dah. Masak dalam sehari ini gue dibikin dongkol tiga kali, bayangin! Pertama, dia tadi ngeluh ngeluh karna kelaperan, lupa dibawain bekal sama emaknya, trus gue sebagai teman yang baik hati kan nawarin bekal gue, nah dia dengan seenaknya bilang ‘Makasih, tapi bekal gue nasi goreng blueband’ !!! Idih mending kan udah gue tawarin!” Dinda mulai berapi-api.

Di sebelahnya, Sehun manggut-manggut. “Yang kedua?”

“Yang kedua, gara-gara efek kelaperan, dia adanya ngomel mulu di organisasi tadi. Nyuruh ini nyuruh itu, dianya ga gerak sendiri juga. Ga bantuin apa-apa, mentang-mentang perutnya lagi kosong. Sumpah, rasanya pengen jejelin dia nasi goreng blueband se-ceting!!!!!!!! Trus ya, yang ketiga, MASA TADI DIA BILANG LO NGEGOMBALIN DIA!”

Glek.

Sehun nelen ludah.

“Hehehe, iya, tadi gue kena dare untuk nggombalin adek kelath. Nah tadi ketemunya thi temen lo itu berarti. Hehehe.”

“Ah elah monyet lu ah!”

“Hehehehehe.”

“Ha he ha he!”

“Cieeeeeeelah cemburu nih ceritanya?” Sehun menjulurkan lidahnya.

“Mana ada!” Dinda meraih gunting di sebelahnya dan mengacungkannya ke Sehun. “Ngomong lagi gue cemburu, gue potong lidah lo!”

“Jahatnyaaa.”

Lalu hening.

Namun sedetik kemudian Dinda membuka mulut dan mengomel, “Ah pokoknya gue sebel Hun! Sebel sama tuh anak!”

“Oh… terus?”

Dinda melirik sebal. “Terus? TERUS? TERUS SANA LO PULANG!”

“Lho? Gue diuthir?”

“IYA! Pulang gih.”

“Lho kok gue dithuruh pulang??”

“Ya karna lo diusir. Pulang aja sana.”

“Thekarang nih?”

Inggih, mas bagus Oh Sehun… hus hus hus!”

Akhirnya dengan terpaksa Sehun pulang dengan hati bimbang. Idih hari ini Dinda moodnya berubah cepet amat, bingung gue. Ah udahlah paling besok udah enakan moodnya.

 

**

 

Besoknya, yaitu hari Minggu, di depan rumah Dinda berdiri seorang cowok tak lain tak bukan adalah Sehun. Ia mengetuk ngetuk pintu rumah berkali-kali namun tak kunjung dibuka. Setelah menunggu tiga menit lalu mengetuk lagi, akhirnya pintu terbuka. Di sana berdiri Mama Ning, ibu Dinda.

“Thiang, tante,” sapa Sehun sambil menyalami mama Ning, menampakkan gigi putihnya di balik bibirnya yang mungil. “Dinda nya ada?”

Mama Ning tidak terkejut melihat Sehun karna beliau sudah sering lihat Sehun setiap kali ia mengantar Dinda pergi dan pulang sekolah.

“Duh nak Sehun, Dinda nya udah keluar tuh dari pagi, sama Tyas sama Chanyeol.”

“Lho, ada Chanyeol juga?”

“Iya. Tapi bilangnya tadi mau pergi ke banyak tempat jadi kurang tau deh di mana mereka sekarang.”

“Oh gitu… em Tante thaya boleh main di thini dulu kan? Thambil nunggu Dinda pulang..”

“Ah boleh boleh nak Sehun. Ayo ayo, masuk…”

Sehun pun masuk, dan ia ijin pergi ke kamar Dinda, ingin lihat-lihat sebentar. Mama Ning tentu memperbolehkan, ya, beliau sudah percaya dengan cowok cakep nan polos ini.

Kamar Dinda tidak terlalu luas namun juga tidak terlalu sempit. Medium size lah. Sehun lalu duduk di ujung tempat tidur Dinda dan melihat-lihat sekeliling.

Tiba tiba matanya yang sipit menangkap sebuah benda yang ada di meja belajar di sebelah tempat tidur. Sehun beranjak mengambil benda itu dan setelah diamati rupanya itu sebuah jurnal, jurnal milik Dinda. Di sampul depan jurnal itu ada tulisan Nama gue Charlos dan gue milik Dinda Ayu Sekarini.

“Din thori gue baca ya buku jurnal lo,” Sehun komat kamit sambil melirik ke arah pintu, takut tiba tiba Dinda muncul dan menerkamnya.

Sehun pun mulai membuka buku jurnal itu. Di halaman awal awal ada gambar buah buahan sedang bercakap cakap… lalu ada sebuah kisah saat Dinda masih bocah ingusan… habis itu ada bio teman teman dekat Dinda… terus ada jadwal pelajaran sekolah… kemudian, di tengah tengah sebuah halaman, tertulis judul My ideal types of boy!

Glek.

Sehun melihat tanggalnya. Ini ditulis sebelum mereka jadian.

Glek glek.

Baca gak ya? Duh penasaran, tapi ini kan top secret Dinda… duh… jangan ah ntar Dinda marah… tapi… ah baca ah… gapapa ya Din, kan gue cowo lo… jangan marah ya? Oke gapapa kok Hun… oke baca deh. Biar tau gue sesuai gak sih sama cowo ideal Dinda.

Sehun mulai baca.

Cowok ideal gue itu yang lebih tua dan lebih tinggi. Yeap, gak brondong gitudeh~ terus dia cakep. Iyalah siapa yang gamau coba punya cowo cakep?!

Sehun mengembuskan nafas lega. “Ah Dinda memang gak thalah pilih!” ia bergumam senang. Cowok berkulit putih seputih kulit sapi itupun melanjutkan membacanya.

Then dia peka! Perhatian! Silently romantic. Muahahahaha ngarep amat. Tapi asyik ya punya cowo yang kaya gitu! Gausah lebay sih perhatiannya. At least dia bisa nunjukin kalo dia milih gue sebagai ceweknya itu karna dia emang sayang, bukan apa apa. Aww~ Hey my future boyfriend or husband if you’re reading this you should be peka en perhatian en romantic, okay? 😛

Lalu gue juga suka cowok yang…….

Sehun nggak menyelesaikan membaca tulisan Dinda itu. Ia hanya terdiam, terpaku, membaca ulang dan ulang kalimat kalimat di halaman itu tentang peka, perhatian, dan silently romantic.

Peka…

Perhatian…

Silently romantic…

Peka…

Perhatian…

Silently romantic…

Peka…

Perhatian….

Sehun menutup buku jurnal itu, meletakkannya kembali di meja belajar, lalu keluar.

“Lho nak Sehun udah mau pulang?” tanya mama Ning yang sedang menyirami bunga di depan rumah.

“Thudah tante. Thehun dicariin Mama. Duluan ya tante, tapi gak uthah bilang Dinda kalo thaya ke thini.”

“Oh.. ya, ya, Nak Sehun. Hati hati ya…”

“Iya tante. Athalamualaikum!” lalu Sehun tancap gas.

 

**

 

Hari Minggu sudah hampir habis. Jam dinding berbentuk Hello Kitty di atas meja belajar Dinda sudah menunjukkan pukul 7. Langit di luar sudah gelap dan dari masjid dekat rumah Dinda terdengar adzan Isya berkumandang.

Dinda baru saja keluar dari kamar mandi, setelah lima belas menit mandi di bawah shower. Yap Dinda baru pulang setelah pergi seharian bersama Tyas dan Chanyeol. Mereka bertiga habis dari mall, lalu nonton pertandingan sepakbola regional kota (yang ini Tyas yang maksa Dinda dan Chanyeol buat ikutan), kemudian sorenya bantu-bantu Mama Chanyeol di kafenya sampai habis Maghrib, dan baru sampe rumah pukul setengah tujuh malam.

Waktu ditanya Mama Ning tadi mengapa tidak pergi dengan Sehun, Dinda dengan agak lesu menjawab, “Sehun mah pasti sibuk, lupa sama Dinda.”

Di kamarnya, Dinda tiduran di kasur sambil mainan hape. Tiba-tiba saat ia lagi ngasih makan Pou-nya, hapenya berdering, dan di layarnya terpampang nama CHANYEOL.

“Halo?” Dinda mengangkat telfonnya, agak heran Chanyeol kok telfon. “Hah? Lo di depan rumah? Ngapain?! … oh, iya, ortu gue baru di masjid… gue ga denger ketukan pintu lo, terlalu lembut sih lo ah… oke oke gue bukain… yep, bye.”

Setelah menutup telfon, Dinda bergegas membukakan pintu buat Chanyeol. “Hei Yeol, ada apa?”

“Ayo ikut gue Din.” Jawab Chanyeol lalu menarik lengan Dinda.

“Eh eh kemana?”

“Udah ikut aja.” Chanyeol pun memasukkan Dinda ke mobilnya.

 

**

 

Mobil yang ditumpangi Chanyeol dan Dinda tiba di tempat karaoke Happy Puppy. Tanpa berkata apa-apa Chanyeol menggandeng Dinda dan berjalan cepat memasuki Happy Puppy. Setengah berlari, Chanyeol menyeret Dinda menuju lantai dua. Keluar dari lift, mereka berbelok ke kanan, menyusuri koridor remang remang yang penuh oleh suara suara dari dalam karaoke box di sebelah kanan dan kiri. Lalu mereka belok kiri. Kiri lagi. Kemudian mereka tiba di hadapan sebuah tangga.

“Kalo ke atas itu ke kafe kan?” Tanya Dinda sambil terengah. “Ini kita ngga karaokean, Yeol?”

“Hmm? Siapa bilang kita mau karaoke?”

“Jadi Cuma mau ke kafenya?”

“Yes. Udah sana masuk.”

Dinda menatap Chanyeol bingung. “Lah, gue doang yang masuk?”

“Iyaa buruan. Gue pulang dulu ya, bye.” Lalu Chanyeol bergegas pergi.

Dinda pun dengan ragu ragu naik tangga dan masuk ke kafe.

Kafe itu sepi. Ga ada mbak mbak atau mas mas yang jaga di kasir maupun di bar. Kemana semua orang? Dinda mengedarkan pandangannya, berharap melihat mas mas atau mbak mbak yang tersembunyi dalam gelap. Namun tak ada apa-apa. Ruangan itu tetap kosong.

“Halo?” Dinda memberanikan diri berseru. Gak mungkin kan Chanyeol nyuruh orang buat culik gue di sini?!

Tiba-tiba, dari balik bar, muncul sebuah kepala. Lalu badan dan tangan yang membawa gitar. Sosok itu keluar dari bar dan berjalan perlahan menuju Dinda. Dia Sehun.

“Gue tau gue gabitha nyanyi,” ucap Sehun. “Tapi gue tetep bakal nyanyiin lagu ini…”

(In setel lagunya sekarang)

“…

Your fingers touching on my lips,

And say a kiss is still a kiss,

And when you look at me I see,

I see the pain that you had to feel

You must have had a broken heart,

To love me the way you do,

Must’ve been so torn apart,

I can see it when I look at you

All the meaning that is in your eyes

The love you give will never die

And I knew right from the start

You must’ve had a broken heart…”

 

Sehun mengangkat kepalanya. Ia membuka matanya, dan matanya bertemu dengan mata Dinda. Dinda gak tau harus berkata apa, ia bahkan tak bisa mengalihkan pandangannya dari mata Sehun, karna cowoknya itu telah mengunci mata Dinda dengan mata coklat miliknya.

Tep.

Selangkah kaki Sehun bergerak menuju Dinda.

Tep, tep, tep.

Tep, tep, tep, tep.

Kini, Sehun telah berada tepat sepuluh senti di depan Dinda, masih menatapnya dalam. Sial Sehun apa apaan sih pake ginian segala?! Sinetron banget. batin Dinda. Ia bener bener ga tau harus berbuat apa.

“Hun…” akhirnya dari mulut Dinda keluar kata kata, memecah keheningan. “Ini… apaan sih? Lo sehat kan? Lo tadi udah sarapan kan? Udah makan siang? Makan malem? Em… lo kenapa tadi nyanyi? Kan lo tau suara lo sumbang? Kenapa—”

“Din,” Sehun memotong perkataan Dinda. Dinda terpaku. Sehun menarik nafas dalam dalam sebelum akhirnya melanjutkan, “Din, gue mau minta maaf.”

“Ma… maaf? Buat apa? Soal air putih itu? Aduh gaapa kali Hun gue juga ikhlas kok!”

“Bukan itu.” Sehun nunduk. “Gue… minta maaf… thelama ini gue bukanlah pacar yang baik buat lo…”

“Heh?!” Dinda terperanjat. Sinting apa ya ini anak?!

“Gue bukan pacar yang thelama ini lo idamin. Gue baru nyadar, thetelah thetaun kita pacaran… gue gak path buat lo…”

“Hun??? Maksud lo?!”

Sehun kembali menatap Dinda, matanya kini berkaca kaca. “Maafin gue Din… gue thelama ini ngga peka, ngga perhatian… ngga thilently romantic kaya yang lo pengen. Gue baru thadar gue ga pernah kathih tunjuk ratha perhatian gue ke elo. Gue ngga pernah bikin lo ngeratha kalo gue macarin lo karna gue thayang thama lo…”

Dinda hanya diam, menunggu Sehun melanjutkan kata katanya.

“Thelama ini malah lo yang perhatian thama gue. Lo thelalu tanyain gue udah tharapan belom, udah makan thiang belom, udah makan malem belom, apa hari ini gue thehat, apa hari ini gue bitha ngikutin pelajaran… macem macem. Gue bener bener terthentuh Din… tapi begonya kenapa gue ga pernah yang namanya perhatian thama lo, peka thama mathalah lo, atau kathih lo kejutan. Lo thelalu ada thaat gue butuh lo nemenin gue belajar atau thaat gue minta ditemenin jajan. Tapi gue ga pernah ada thaat lo lagi thedih dan butuh hiburan. Waktu lo thebel kemaren aja gue gabitha apa apa biar lo theneng lagi.”

“Lo pathti nyethel nerima gue ya Din?”

“SEHUN! Gue ga pernah yang namanya nyesel nerima lo! Asal lo tau, cuma dengan curhat ke lo dan dengerin kecadelan lo itu gue udah lupa sama masalah gue!”

“Thebenernya gue bingung gimana cara nyenengin lo lagi thaat lo ada mathalah. Thumpah gatau haruth ngapain. Tapi Din, methki thelama ini gue ga perhatian, gue thebetulnya bener bener thayang thama lo. Gue pilih lo thebagai pacar itu ya karna pribadi lo, bukan karna yang lain. Tiap kali liat lo thedih, gue jadi kepikiran. Tapi begonya gue ga pernah bitha hibur lo. Yah… gue agak nyethel kalo di akhir, lo bitha ketawa lagi karna Tyath, Chanyeol, dan temen lo yang lain, bukan karna gue. Gue minta maaf Din. Gue janji gue bakal lebih peka dan lebih perhatian dan lebih romantic. Thetelah gue tau ada poin poin di mana gue gak mathuk dalam cowo ideal lo, gue jadi takut. Takut lo bakal mututhin gue thuatu thaat. Padahal gue bener bener gamau kalo pututh dari lo. Gue thayang thama lo. Gue gamau kehilangan lo, Dinda.”

Tanpa disadari pipi Dinda memerah, dia gak bisa berkata kata. Sehun, cowoknya, yang dia kenal sebagai anak yang childish, kini bener bener nampak dewasa di hadapannya. Yah, meski di dalam hati dia mengutuk ngutuk karna kata kata Sehun yang sedikit alay itu bisa bikin Dinda ngefly sampe ke Pluto.

“Hun, gue bener bener… bener bener gatau harus bilang apa… selama ini gue ngerasa lo udah perfect buat gue kok. Dan sebenernya tanpa lo harus kasih liat perhatian yang lebih, lo udah bisa bikin gue ketawa… dan… dan… aduh Hun ini bukan style gue banget, tapi gue mesti bilang kalo… kalo gue juga sayang banget sama lo. Gue sempet takut lo tadi mau mutusin gue abis lo bilang lo bukan cowok yang baek buat gue.”

Sehun tersenyum. Sebuah senyum geli. “Maaf tadi lo bilang apa Din?”

“…. Gue sayang lo…”

“Apa? Ga denger.”

Shit lo ah!!! Sumpah itu bukan style gue banget ngomong gue sayang ke elo. Ah monyet lu ah!”

Sehun ketawa ketiwi karna berhasil bikin Dinda ngomong sesuatu yang takkan Dinda ucapkan di hidupnya.

“Eh baidewei lo tau cowo ideal gue dari mana?!” tanya Dinda tiba tiba.

“Upth…”

“LO BACA BACA JURNAL GUE YA?!?!?!?!”

“Iya hehe, dikit kok…”

“SEHUUUUUUNNNNN GUE JEJELIN NASI GORENG BLUEBAND LO!!!!!”

Dinda dan Sehun pun kejar kejaran layaknya anak usia 4 tahun.

 

tehunnn

 

END~~~~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s