Reality Sucks?

Terkadang, kita terlalu asyik berada di dalam mimpi-mimpi kita. Bagaimana tidak, di alam mimpi kita dapat bersama-sama dengan orang yang kita sukai, dapat melakukan apa yang kita ingin lakukan, dan tentunya kita senang berada di sana. Benar begitu, kan?

Aku pun sering terjebak di alam mimpi, yah, rasanya tak terhitung.

Mimpi di sini bukan kumaksudkan mimpi ketika kita tidur, namun imajinasi, impian kita. Seringkali aku berada di tengah-tengah imajinasi tentang peri, unicorn, EXO, Real Madrid, dan bahkan tentang my crush. Well, menyenangkan bukan, kita dapat membayangkan sesuatu yang kita inginkan untuk terjadi? Baper sendiri bawaannya. (baper= bawa perasaan).

Namun, sering kali pula aku tersadar bahwa itu semua hanyalah imajinasi. Hanyalah ilusi. Tidak nyata!

Peri? Unicorn? Bodoh sekali, mereka tak nyata. Tidak ada makhluk hidup bernama peri dan unicorn di dunia ini.

EXO? Real Madrid? Snow, sadar! Mereka ada, namun mereka sangat jauh. Kamu tau mereka, namun apa mereka tau kamu? Apa mereka peduli kamu ada?

Snow, imajinasi tentang your crush? Ilusi, apa kau tau? Semua skenario yang ada di kepalamu yang kamu buat tiap malam tentang crush mu itu, ya hanyalah skenario. Pernahkah itu terjadi? Tidak pernah, kan?

Yes.

Reality sucks.

Kalian mengerti apa yang aku coba jelaskan di sini? Hmm, bahkan baru membaca judulnya saja aku yakin kalian udah ngerti. Sakit, ya? Ya, kenyataan memang pahit.

Banyak impian dan imajinasi kita yang tak terjadi di kenyataan. Banyak yang menyerukan kata “tak adil” karena kenyataan yang mereka terima tak sesuai dengan impian atau rencana mereka. Ya, banyak.

Aku juga pernah mengalami kejadian yang membuatku marah, sedih, kecewa, dan bahkan membuatku membenci diriku sendiri, hanya karena kenyataan pahit.

Suatu saat aku pernah memiliki impian untuk menjadi anggota klub jurnalistik di sekolah. Impian itu sudah kupendam sejak aku di bangku sekolah menengah pertama. Kecintaanku pada menggambar dan menulis cerita lah yang mendorongku untuk ikut. Maka, saat aku masuk ke sekolah menengah atas tempatku belajar saat ini, aku dengan semangat mendaftar di klub jurnalistik itu. Sudah sejak lama aku tau kalau untuk masuk klub itu ada seleksinya. Aku sudah menyiapkan sebuah gambar pada malam sebelumnya, namun aku pikir menggambar banyak saingannya. Akhirnya, setelah berunding dengan Mama, malam itu juga aku mempersiapkan sebuah artikel mengenai anak perempuan boleh saja menjadi penyuka sepak bola, karena aku sendiri penyuka olahraga itu. Keesokan harinya, aku melaksanakan seleksi bersama teman-temanku. Tidak hanya membuat karya saja, namun kita harus mengikuti tes wawancara dan pemantapan. Inilah… inilah yang membuatku ketar-ketir. Aku tak pernah pandai berbicara, dan terlebih lagi, I’m slow at thinking. Kalian pasti sudah bisa menebak bagaimana tes wawancaraku berjalan. Buruk. BURUK. Sangat buruk. Dan aku pun tak diterima.

Padahal masuk di klub jurnalistik itu merupakan salah satu impian terbesarku. Sudah terbayang di pikiranku karya yang akan aku ciptakan untuk diikutsertakan dalam majalah sekolah yang memang dibuat oleh klub jurnalistik. Ada rubrik-rubrik baru yang sudah kupikirkan akan kubuat.

Namun semuanya hilang.

Hilang tak berbekas saat aku tak melihat namaku di daftar anak yang diterima di klub jurnalistik itu.

Entahlah. Entah ke mana semua ide-ide itu pergi. Akan kubiarkan saja. Takkan kucari lagi. Toh, aku tak membutuhkannya lagi.

Saat itu memang sedih dan kecewa rasanya. Ingin sekali membenci diri selamanya. Setiap kali, selalu menyalahkan diri. Mengapa kamu tidak pandai bicara, Snow?! Dasar bodoh. Itulah pikiran yang selalu ada di benakku.

We must accept finite disappointment, but never lose infinite hope.

— Martin Luther King, Jr.

Tapi apa kau tau, sesempurna apapun rencanamu, jika Tuhan tak menghendakinya untuk terjadi, maka tidaklah akan terjadi. Kamu merasa marah? Kecewa? Tentu, rasa itu pasti ada. Namun janganlah kamu pernah membenci-Nya karena dibalik kegagalanmu itu, Tuhan telah merencanakan sesuatu yang jauh lebih baik untukmu.

Tidak percaya? Hal itu terjadi padaku.

Setelah tak diterima di klub jurnalistik, aku pun masuk English Club sekolahku. Di sana menyenangkan, anaknya seru, dan lebih lagi aku bisa improve my English skills. Dapat teman baru juga, tentunya. Namun yang membuatku bersyukur karena tidak diterima di klub jurnalistik adalah aku kemudian terpilih menjadi salah satu debaters untuk mewakili kota tempatku tinggal berlomba di Salatiga, lomba debat bahasa Inggris tingkat Provinsi. Bisakah kamu membayangkan betapa senangnya aku terpilih menjadi debater? Ah, tak dapat dituangkan dalam kata-kata.

Meski tidak menang pada akhirnya, sudah dapat mengikuti lomba seperti itu saja aku sudah senang bukan main. Dan itu membuatku berpikir, bila dulu aku diterima di klub jurnalistik, aku takkan masuk EC dan aku takkan bisa mewakili kotaku berlomba di Salatiga. Jadi, itu alasan Tuhan tidak memasukkan ku pada klub jurnalistik itu? Ah, betapa besar dan tak terduga rencana-Nya itu. Subhanallah.

Jadi, apakah kita masih mau menyebut “reality sucks” lagi? Kalau aku, mungkin tidak, mungkin iya. Tau sendiri lah, aku masih anak labil. Tapi kita bisa terus belajar bersama menjadi pribadi yang lebih dewasa dari sebelumnya. Semoga di saat kita mendapat kenyataan pahit lagi, kita sudah bisa menahan diri untuk tidak mengatakan reality sucks lagi. Amin!

Aku rasa cukup sekian dariku. Semoga tulisan kecil ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi kalian para readers!

Gratitude unlocks the fullness of life. It turns what we have into enough, and more. It turns denial into acceptance, chaos to order, confusion to clarity. It can turn a meal into a feast, a house into a home, a stranger into a friend.

— Melody Beattie

and one more quote 🙂

The word ‘happiness’ would lose its meaning if it were not balanced by sadness.

— Carl Jung

Baiklah, sampai jumpa di post-post berikutnya!

sw xx

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s