kaWanku berhenti terbit

Sore ini, ketika saya sedang membaca artikel-artikel tentang freelance writing di internet, sambal menikmati dinginnya kota Surabaya yang sejak tadi siang diguyur hujan, saya menemukan berita yang diterbitkan pada Desember 2016 yang membuat hati saya kelu. Berita yang dimuat di website Kompas Female tersebut mengatakan bahwa majalah kaWanku telah berhenti terbit sejak bulan Desember 2016. 

Majalah kaWanku adalah salah satu majalah terbitan Gramedia Majalah yang kontennya ditujukan pada remaja perempuan berusia 13-16 tahun. Saya sudah menjadi pembaca setia kaWanku sejak saya duduk di SMP, berarti sekitar 4 sampai 5 tahun yang lalu. Ya, meskipun sebenarnya belum bisa dikatakan pembaca yang benar-benar setia, karena saya sendiri tidak berlangganan majalah tersebut, melainkan hanya membelinya ketika saya jalan-jalan di Gramedia dan mampir ke rak majalah.

Dulu, tante saya pernah menunjukkan koleksi majalah-majalahnya ketika ia masih kuliah. Saat itu saya masih SD, dan kebetulan sedang liburan di rumah eyang dan tante saya itu. Saya tidak pernah menyangka kalau ternyata Tante dulu berlangganan majalah. Koleksinya banyak sekali! Ada majalah Hai, Gadis, Aneka, dan tentunya kaWanku, cetakan tahun 1999-2004. Lama juga, ya, Tante berlangganan majalah-majalah itu. 

Saya yang saat itu bacaannya hanya Majalah Bobo yang setiap minggu Papa belikan di puskesmas tempatnya bekerja, menjadi tertarik untuk membaca majalah-majalah yang berisi konten untuk remaja tersebut. Saya suka melihat rubrik fashion-nya karena ada banyak foto baju-baju yang lucu dan trendy. Saya juga suka membaca cerita-cerita tentang pengalaman para Gadis Sampul, dan di antara mereka ada wajah yang saya kenali, yang sudah menjadi artis beberapa tahun setelah ia terpilih sebagai Gadis Sampul. Formulir pendaftarannya yang ada di majalah Gadis juga suka saya isi, pura-puranya saya akan mendaftar jadi Gadis Sampul, hihi.

Ketika akhirnya saya duduk di bangku SMP, saya terkadang melihat teman-teman saya membeli majalah di kios samping sekolah. Ada beberapa majalah dijual di sana, termasuk di antaranya adalah Majalah Bobo dan kaWanku. Saya jadi teringat majalah kaWanku milik Tante. Ada yang berbeda dari ukurannya. Dulu, majalahnya seukuran Majalah Bobo, tapi sekarang berukuran lebih kecil. Saya suka meminjamnya dari teman saya dan membaca beberapa rubriknya. Saya juga punya kebiasaan mencium bau majalah atau buku baru, karena saya suka dengan baunya. 

Dibandingkan dengan sekarang, saya tentu suka membaca artikel secara online, karena banyak kontek yang dapat diakses dengan gratis dan saya juga tidak perlu repot-repot pergi untuk membeli koran, majalah, maupun buku untuk membaca. Bahkan, saya pernah menjumpai beberapa website yang membagikan ebook buku-buku terkenal dengan gratis. Saya jadi berpikir, orang-orang sekarang lebih menyukai media dalam bentuk digital, ya. Dengan kemudahan akses internet, resource apapun bisa kita dapatkan dengan mudah.

Dalam berita tentang berhenti terbitnya majalah kaWanku di website Kompas Female, tertulis informasi tentang riset yang dilakukan oleh Nielsen terhadap 17.000 remaja Indonesia berusia 13-16 tahun, bahwa hanya 9 persen dari jumlah tersebut yang masih membaca majalah dalam bentuk cetak, sedangkan ada 81 persen yang lebih memilih membaca konten digital. Hal inilah yang menyebabkan kaWanku dan beberapa media cetak lain berhenti terbit di tahun 2016. 

Menurut saya pribadi, sangat disayangkan hal ini harus terjadi. Jujur saja, saya kaget waktu membaca berita tersebut tadi. Saya langsung mencari berita tersebut dari sumber lain, untuk mengkonfirmasi kebenarannya. Ternyata, setelah membaca berita yang sama di beberapa website, berita tersebut memang benar adanya. Saya jadi sedih, majalah favorit saya berhenti terbit seperti itu. 

Beberapa minggu yang lalu, saya sempat jalan-jalan ke Gramedia ketika saya berlibur di Jogja. Tujuan saya awalnya untuk membeli bolpoin warna dan sticky notes untuk menambah koleksi stationery saya. Tetapi lama-lama saya merambah juga ke rak-rak majalah. Yang saya cari tentunya adalah majalah kaWanku, karena sudah lama saya tidak membacanya. Namun, setelah beberapa saat mencari, saya tidak juga menemukannya. Sampai tiga kali saya mondar-mandir di depan rak majalah itu, tapi juga tetap tidak ketemu. Saya hanya berpikir bahwa mungkin majalahnya sudah habis terjual. Saya tidak menyangka kalau beberapa minggu setelahnya, saya akan mengetahui bahwa majalah tersebut sudah berhenti terbit.

Kalau dibilang sedih, ya pasti saya merasakan hal tersebut. Kaget, juga. Saya jadi tidak bisa lagi membaca konten-konten majalah kaWanku yang sangat saya sukai. Sepertinya mereka sekarang beralih ke online publishing, dengan website baru mereka yaitu cewekbanget.id. Ya, mungkin dalam beberapa tahun yang akan datang, akan semakin banyak majalah dan surat kabar yang lebih sering menggunakan website-nya untuk membagikan konten kepada pembaca. Tidak lagi menggunakan media cetak. 

Saya hanya berharap untuk kesuksesan media-media, baik itu media cetak maupun media digital. Meskipun saya juga lebih berharap media cetak akan terus ada, karena, siapa sih yang tidak suka dengan bau buku dan kertas baru? 

Sekian dari saya, semoga bermanfaat! 😀

Salam,

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s