Hujan, Aku Rindu

Dari balik jendela kamar asrama lantai 3, aku memandang jauh ke bawah, ke arah danau buatan di sebelah tempat parkir kendaraan. Lingkaran-lingkaran kecil beberapa kali muncul dan menghilang di atas permukaan danau, tergantikan oleh lingkaran kecil lainnya. Sempat kulihat dua orang lelaki berusaha menutupi kepala mereka dengan tangannya sambil berlari-lari kecil ke arah gedung asrama di belakang parkiran. 

Saat itu baru pukul empatㅡaku sempat melirik ke arah jam tangankuㅡtetapi awan-awan hitam di langit membuatnya terlihat seperti sudah hampir masuk waktu Maghrib saja. Kalau ada seseorang yang terjaga dari tidur siangnya saat itu juga, bisa saja ia terburu-buru ke kamar mandi untuk wudhu dan melaksanakan ibadah sholat Maghrib.

Angin bertiup kencang, masuk ke kamar melalui jendela yang sedari tadi kubiarkan terbuka. Sepotong kain yang kugantungkan sebagai gorsen tersibak menyapu wajahku. Ketika butiran air hujan mulai mendarat di wajahku, segera kututup jendela dan gordennya.

Aku beranjak ke meja belajar di sudut ruangan dan meraih telepon genggamku. Rasanya, aku ingin menelepon Mama dan menceritakan bagaimana di hari Minggu ini aku hanya berdiam diri di kamar karena hujan turun seharian penuh. Juga ingin kuceritakan tentang betapa dingin hawa di Surabaya saat turun hujan dan bagaimana aku merindukan suasana hangat berkumpul bersama Mama, Papa, dan adik-adik di ruang tengahㅡterkadang Mama menyenandungkan lagu-lagu lawas dengan iringan gitar Papa. Ya, hal-hal kecil yang hanya bisa aku dapatkan di Pekalongan.

Beberapa hari terakhir ini, aku sangat rindu rumah. Mungkin karena sudah hampir dua bulan aku tidak pulang. Iming-iming semester dua perkuliahan akan “gabut” dan bisa sering-sering pulang, mana? Aku tidak merasakan itu. Ingat betul aku, sesaat sebelum check-in ke ruang tunggu di stasiun, Mama sempat berpesan padaku, “Sering-sering pulang, ya, Mbak.” yang saat itu hanya kubalas dengan, “Ya, Ma. Kan aku juga pasti harus sering kontrol kawat gigi.”

Maaf ya, Ma, Pa, Tyas belum bisa pulang. Ada hal-hal yang masih harus kulakukan di Surabaya. Tetapi aku pasti pulang di hari ulang tahun Papa. I want to be there on the day my most special man is celebrating his birthday. Tunggu aku pulang ya, Ma, Pa. Tunggu aku di depan pintu rumah, aku rindu sambutan hangat Mama dan Papa dulu ketika aku pulang sekolah.
Karena Mama selalu bilang, “Anggap saja Mbak Tyas pamit mau berangkat sekolah ke SMA 1, ya.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s