[Thoughts Crunch] How I Motivate Myself

“Congratulations Tyas, for being accepted in Dankook University exchange program!”

“I am happy for you! How did you manage that?”

“You’ve gone through a lot. What made you so strong-willed and finally made it to Korea?”


A few weeks ago, my phone rang and notified me of an incoming chat from a friend of mineㅡa special friend. I don’t remember exactly what it said, but he was asking me if I’d mind being a speaker in his online discussion. He wanted to create an online workshop for the students in our university, which was aimed to introduce international programs such as student exchange and short programs with scholarships that students could join. The project was part of our university’s International Office recruitment process, where candidates had to make a project about internationalization. I’m a volunteer of International Office and I did such a project too, last year. Good old times… haha.

As I read the message, he explained to me that I would have to tell my experiences about the student exchange program at Dankook University in the online discussion. I would share about what I went through before coming to Korea, my motivation in joining this program, and mostly about the scholarshipㅡbecause that was the point of the online discussion; being able to join international programs with scholarships.

Continue reading “[Thoughts Crunch] How I Motivate Myself”

Advertisements

Hujan, Aku Rindu

Dari balik jendela kamar asrama lantai 3, aku memandang jauh ke bawah, ke arah danau buatan di sebelah tempat parkir kendaraan. Lingkaran-lingkaran kecil beberapa kali muncul dan menghilang di atas permukaan danau, tergantikan oleh lingkaran kecil lainnya. Sempat kulihat dua orang lelaki berusaha menutupi kepala mereka dengan tangannya sambil berlari-lari kecil ke arah gedung asrama di belakang parkiran. 

Saat itu baru pukul empatㅡaku sempat melirik ke arah jam tangankuㅡtetapi awan-awan hitam di langit membuatnya terlihat seperti sudah hampir masuk waktu Maghrib saja. Kalau ada seseorang yang terjaga dari tidur siangnya saat itu juga, bisa saja ia terburu-buru ke kamar mandi untuk wudhu dan melaksanakan ibadah sholat Maghrib.

Angin bertiup kencang, masuk ke kamar melalui jendela yang sedari tadi kubiarkan terbuka. Sepotong kain yang kugantungkan sebagai gorsen tersibak menyapu wajahku. Ketika butiran air hujan mulai mendarat di wajahku, segera kututup jendela dan gordennya.

Aku beranjak ke meja belajar di sudut ruangan dan meraih telepon genggamku. Rasanya, aku ingin menelepon Mama dan menceritakan bagaimana di hari Minggu ini aku hanya berdiam diri di kamar karena hujan turun seharian penuh. Juga ingin kuceritakan tentang betapa dingin hawa di Surabaya saat turun hujan dan bagaimana aku merindukan suasana hangat berkumpul bersama Mama, Papa, dan adik-adik di ruang tengahㅡterkadang Mama menyenandungkan lagu-lagu lawas dengan iringan gitar Papa. Ya, hal-hal kecil yang hanya bisa aku dapatkan di Pekalongan.

Beberapa hari terakhir ini, aku sangat rindu rumah. Mungkin karena sudah hampir dua bulan aku tidak pulang. Iming-iming semester dua perkuliahan akan “gabut” dan bisa sering-sering pulang, mana? Aku tidak merasakan itu. Ingat betul aku, sesaat sebelum check-in ke ruang tunggu di stasiun, Mama sempat berpesan padaku, “Sering-sering pulang, ya, Mbak.” yang saat itu hanya kubalas dengan, “Ya, Ma. Kan aku juga pasti harus sering kontrol kawat gigi.”

Maaf ya, Ma, Pa, Tyas belum bisa pulang. Ada hal-hal yang masih harus kulakukan di Surabaya. Tetapi aku pasti pulang di hari ulang tahun Papa. I want to be there on the day my most special man is celebrating his birthday. Tunggu aku pulang ya, Ma, Pa. Tunggu aku di depan pintu rumah, aku rindu sambutan hangat Mama dan Papa dulu ketika aku pulang sekolah.
Karena Mama selalu bilang, “Anggap saja Mbak Tyas pamit mau berangkat sekolah ke SMA 1, ya.”